Ibnu Bohari

Blackberry Curve 8900 (Javelin) : One Week Review

Posted in Blackberry, Stuff Around Me by mibnufajar on 29 June, 2009

Okeh. Jadi gw adalah salah satu korban kapitalisme-konsumerisme-gak tahan liat saldo banyak ditabungan-latah-neo liberalisme-bla3. Gw pengen punya Blackberry, like everyone did.

Jadinya mulailah gw searching2.. Blackberry apa yang cocok dengan gw.. Yang jelas pilihannya hanya tiga : Bold, Javelin, atau Storm. Kenapa ? Karena motivasi beli gw 70% adalah buat gaya.. Masa mw gaya tapi gayanya pake Curve 83XX ?? No Can Do. Harus keluaran terbaru.

Storm ? Coret. Pake Touchscreen. Ga berasa Blackberry-nya. Blackberry is QWERTY (or QWERTZ for East Europe, for all i care..). Kalo mw touchscreen, beli iPhone 3Gs

Bold? Most likely, tapi its way tooooooo expensive. Given its poor camera and battery life comparing to Javelin. My friend says it barely hang on one full day. And its bulky

Javelin ? Just perrrrfect, except for its lack of 3G (which i don’t miss a lot, since its already kind of fast..)

So i bought Javelin.

Dan setelah menggunakannya selama seminggu, here’s my review :

Harga, Rp 5.950.000, beli di Global Teleshop Semanggi. Bundling dengan Telkomsel. Kalo mw lebih murah dan rada terjamin, Rp 4.800.000 di Bhinneka.com.  Atau Rp4.500.000 di toko2 di Roxy. Bedanya apa ? Garansi. Kalo yang bundling operator, di garansi 1 tahun oleh operator. Beli di tempat lain ? garansi 3 bulan oleh distributor.

Perbedaan harga yang sangat mencolok pasti bikin smua orang tergiur, termasuk gw juga. Tapi klo yang dah punya Blackberry ato yg mw beli Blackberry, pasti tau dong kalo Blackberry itu punya yang namanya PIN. PIN adalah identitas dari handset Blackberry itu. Dan satu PIN hanya untuk satu Blackberry. Nah, sekarang itu lagi gencar2nya yang namanya cloning PIN, jadi pedagang2 licik yang cuma mw nyari untung, nyari handset Blackberry bekas, diperbaharui kemudian diisikan dengan PIN palsu. Nah yang kayak gini, sanagt2 berbahaya untuk kelangsungan hidup handset Blackberry itu, soalnya, RIM (Research in Motion, perusahaan yang memproduksi Blackberry) dapat mendeteksi jika sebuah PIN digunakan oleh dua buah handset secara bersamaan. Dan akhirnya ? PIN di-suspend, Handset itu tidak bisa digunakan untuk layanan Blackberry (tapi buat nelepon dan sms masih bisa)

Nah, makanya, jangan beli Blackberry sembarangan.. biar ga kena suspend. Tapi dua temen gw, belinya di non-operator, dan masih baik2 saja, jadi klo pun gak mw beli yang dari operator, belinya di tempat yang dah terpercaya, jangan deh ampe ke Roxy, kayaknya dsana banyakan penipu-nya tuh..  Malah ada satu yang dah terkenal penipu di milis2, Toko Aloha (pemiliknya namanya Sugi Tan) just sharing info.. jadi Waspadalah.

Trus masalah setting, ternyata gampang bangget.. tapi gw cuma tau yang BB Telkomsel yak.. jadi tinggal isi pulsa 180.000 (kcuali yang punya Kartu Halo). ketik BB REGkirim ke 333, lakukan konfirmasi and voila, lu dah bisa browsing, push mail (didafterin dulu email yang mw di-push ke telkomsel.blackberry.com) dan seterusnya..

Trus2, balik lagi ke Review-nya, ini dia kesan2 gw :

1. Bentuknya sungguh indahhhhhh….

2. Layarnya terang dan bagus banget, meskipun hanya 65.00 warna, best screen i’ve seen so far in a mobile phone.

3. Speakernya payah.. Ringtone-nya jelek2 pula (Klo Bold katanya jauh-jauh lebih baik)

4.  Kamera, resolusi 3.2 mpix dengan flash dan auto fokus yang beda ( biasanya kan ato fokus tuh : kita jepret setengah, stelah dapet fokus, baru pencet penuh. Nah ini beda, kita langsung pencet penuh, ntar kamera langsung fokus ke bagian tengah dan jadi deh, lebih simpel tapi kita gak bisa milih fokus, jadi objek harus berada ditengah). Hasil jepretannya juga oke banget. Ngalah2in Viewty gw yg 5 mpix…

5. Push Email : The best ever.. Sangat keren. Cepat. Real time. Bahkan email bpk.go.id yang gak bisa gw POP3 itu akhirnya bisa gw push ke hape gw. Banyak orang yang bilang, sekarang kan dah banyak HP yang bisa push mail, bahkan hape Java biasapun bisa diinstalin program2 push mail biar bisa kayak Blackberry. I tell you now : it’s different. Kenapa ? Buat  henpon yang gak native mendukung push mail sehingga harus diinstalasi program push mail macam Seven, harus menjalankan aplikasi itu terus menerus biar bisa dipush.. Udah gitu, karena program itu dibangun utk banyak handset, jadinya gak nyaman interfacenya, lambat, dan berbagai macam kelemahan lainnya

Hape yang sudah mendukung push mail, tapi bukan Blackberry memang bisa lebih nyaman interface-nya, tapi its so damn slow dibandinkan Blackberry karena Blackberry punya sistem kompresi sendiri sehingga email berukuran 1 MB bisa dikompresi hingga menjadi 10 kb.. kemudian meskipun dijejali ribuan email, sistemnya tetap lancar-car-car gak nge-hang.. Coba bayangin Nokia Symbian lo dijejali 1000 inbox, ouch, cabe deh…super duper lelet..

6. Ada fitur search.. jadi mw nyari mail, contact, sms dsb bisa disearch ajah.. Ini juga salah satu kelebihannya dibanding hape2 push mail biasa..

7. Contact-nya sangat2 ekstensif, bisa diconnect ke Facebook (utk mendownload foto dari facebook), Google Talk, Yahoo Messenger, dsb..

8. Sistemnya terintegrasi dgn Facebook banget. Jadi abis ngambil foto, bisa langsung di-tag dulu sebelum diupload.

9. Aplikasi yang tersedia buat Blackberry sangat sedikit dan terbatas, dah gitu kebanyakan berbayar pula, malas bangettt..

10. Batre-nya booooroooosssss, 1360 mAH bertahan hanya setengah hari.. Tapi itu wajar, utk 2-3 hari pertama pemakaian (masih bru gtu lohh). Sekarang sih batre gw bertahan skitar 1 hari.

11. QWERTY cukup nyaman meskipun kadang kelingking gw pegel..

12. Music Player-nya keren..keren..keren..

13. Gw doyan banget dengan Hape ber-font kecil, dan tulisan hape ini bisa diset mpe font size 7, Love it.. Small is beautiful..

14. Online 24 Jam. Gw Wikipedia freak. Semua hal harus gw search di Wikipedia. or Google. Jadi bisa always online is such a bless

15. Blackberry browser-nya oke. lumayan cepet dan bisa merender http://www.facebook.com, bisa buka web banking-nya BNI juga.

16. Email slalu dateng, and its kinda annoying. Tiap lima menit, tiap nengok hape, pasti selalu ada email baru, notifikasi facebook baru,chat baru.. males juga lama2..

17. Twitter + Blackberry is such a perfect combination. Once you had something in your mind, tweet it !

18.  I just love it.

Advertisements

Primera’s Favourite Quote : 4

Posted in Quote by mibnufajar on 25 June, 2009

Don’t worry about RF exposure. You’ll die from everything else before that. I promise.
–www.blackberryforums.com

p.s. : RF is Radio Frequency

Primera’s Favourite Quote : 3

Posted in Quote by mibnufajar on 23 June, 2009

Once you go Crack, you can’t go back to a dumbphone… it just doesn’t work like that.
http://www.CrackBerry.com

Knowledge is Power
— I dunno, hehe

Tagged with:

Mw Menabunggggggg…

Posted in Just Some Thought, Life Planning by mibnufajar on 19 June, 2009

Pernah denger kata2 Ustadz kayak gini nggak :

“Dapet cobaan jadi orang miskin itu beratt.. Tapi dapet cobaan jadi orang kaya tu lebih berat lagi ”

Tiap kali denger ceramah kayak gitu, dalam hati pasti gw bilang gw gak keberatan tu dikasih cobaan jadi orang kaya, hehehehe.. tapi sekarang gw baru ngerti rasanya.. bahwa cobaan jadi orang kaya tu emang lebih berat. Bukan ! Gw gak tiba2 dapet warisan milyaran ato apa, hehehe… Cuma dari dulu, gw adalah manusia latah tak berdosa yang hanya ingin mengikuti trend terbaru di kota Jakarta ini. Dan yang lagi happening sekarang adalah Handphone keparat yang super mahal bernama Blackberry.

Dulu, waktu gw gak punya duit.. gw tinggal ngarep2 aja ngeliat Blackberry itu.. Mw beli juga kagak bisa.. Nah sekarang, gw dah punya cukup uang untuk beli BB, gw jadi bingunggggg… Apakah aku harus membelinya (OMG, harganya itu lohhhh…Kurang ajar banget, tidak berperasaan banget) ataukah uangnya kutabung saja ????

Nah, itulah interpretasi gw atas kata2 “dapet cobaan jadi orang kaya itu lebih berat “, hehehehehehehe..

Tagged with: ,

Primera’s Favourite Quote : 2

Posted in Quote by mibnufajar on 18 June, 2009

Every movie made before 1990 should just be called a “premake.”
-Andrew B.

Tagged with: , ,

Iphone Hype

Posted in Peep Talk by mibnufajar on 9 June, 2009

The first iPhone was more eagerly anticipated than Jesus Christ returning with an eighth Harry Potter novel. — Cracked.com

So damn true.

RS Omni Internasional, Apakah memang seperti itu ?

Posted in Peep Talk by mibnufajar on 3 June, 2009

Satu lagi kasus gugatan yang dilancarkan oleh pihak RS Omni Internasional kepada pasiennya, dikutip dari Hukumonline.com

Rumah Sakit Gugat Pasien
[5/5/09]

Anggap tagihan rumah sakit tidak wajar, keluarga pasien RS Omni Internasional menolak membayar. Keluarga merasa tidak mendapat informasi medis memadai hingga pasien meninggal dunia. Rumah sakit akhirnya menggugat ke pengadilan

PT Sarana Meditama Metropolitan (RS Omni Internasional) meradang. Setelah melakukan perawatan dan pengobatan terhadap Abdullah Anggawie selama tiga bulan, keluarga pasien tersebut menolak membayar tagihan. Diwakili dokter Sukendro selaku Presiden Direktur RS Omni Medical Center, rumah sakit itu melayangkan gugatan terhadap keluarga pasien ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 24 November 2008. Sasarannya adalah Tiem F. Anggawie, PT Sinar Supra Internasional dan Joesoef Faisal, masing-masing sebagai tergugat I, II dan tergugat III.

Majelis hakim yang diketuai Sugeng Riyono menggelar persidangan lanjutan perkara No. 396/Pdt.G/2008/PN/JKT.PST itu Selasa (28/4) pekan lalu dengan agenda pemeriksaan ahli. Dalam gugatan dijelaskan bahwa almarhum Abdullah Anggawie adalah pasien di RS penggugat kurang lebih sejak tahun 1990-an. Abdullah kembali dirawat di RS Omni pada 3 Mei 2007 hingga 5 Agustus 2007 dan akhirnya meninggal.

Saat Abdullah meninggal, ia masih mempunyai tagihan biaya perawatan sebesar Rp427,268 juta dan belum dibayar hingga gugatan diajukan. Nilai itu dihitung dari keseluruhan tagihan sebesar Rp552,268 juta dikurangi dengan uang muka yang dibayarkan Rp125 juta. Setelah itu, rumah sakit menagih biaya perawatan pada para tergugat.

Hal itu sesuai dengan surat pernyataan persetujuan dirawat tanggal 3 Mei 2007 dan surat pernyataan tanggal 5 Agustus 2007 yang ditandatangani Tiem F. Anggawie. PT Sinar Supra Internasional berperan sebagai penjamin berdasarkan surat jaminan tanggal 28 Juni 2007. Joesoef Faisal bertindak sebagai penanggung jawab perawatan pasien Abdullah selama di RS hingga almarhum meninggal berdasakan surat tanggal 7 Agustus 2007.

Berdasarkan surat itu, penggugat menyatakan para tergugat berkewajiban membayar uang jaminan perawatan minimum sesuai dengan peraturan yang berlaku, melunasi seluruh biaya perawatan untuk pasien pada waktunya, dan jika melakukan kelalaian dalam memenuhi kewajiban tersebut akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Selain itu, para tergugat juga dinilai bertanggung jawab untuk mengganti semua kerusakan yang diakibatkan pasien (kalau ada) selama perawatan, menyetujui pengobatan lain yang dianggap perlu sesuai dengan prosedur dan peraturan tindakan medis yang berlaku. Pasien juga diwajibkan mematuhi perawatan dan tata tertib perawatan yang berlaku di rumah sakit.

Sebagaimana terungkap dalam gugatan, penggugat baik secara lisan maupun tulisan telah beberapa kali mengajukan penagihan dan peneguran agar para tergugat melunasi biaya perawatan. Misalnya, surat tertanggal 20 September 2007, 9 Juni 2008 dan 24 Juni 2008. Penggugat dan para tergugat telah beberapa kali mengadakan pertemuan. Namun para tergugat tidak juga membayar hingga tenggat waktu 1 Juli 2008. “Cukup bukti bahwa para tergugat telah wanprestasi kepada penggugat sehingga terpaksa harus diajukan gugatan ke pengadilan,” papar kuasa hukum penggugat, Heribertus S Hartojo, dalam berkas gugatan yang salinannya diperoleh hukumonline.

Akibat wanpretasi itu, penggugat mengalami kerugian lantaran biaya operasional rumah sakit terganggu. Karena itu, penggugat menuntut para tergugat secara tanggung renteng untuk melunasi biaya pengobatan dan perawatan sebesar Rp427,268 juta. Selain itu sesuai dengan Pasal 1250 KUHPerdata, penggugat menuntut pembayaran bunga 6 % per tahun dari total tagihan, mulai gugatan diajukan hingga biaya dilunasi.

Pada 10 Maret 2009, tergugat mengajukan bantahan atas gugatan kepada majelis hakim yang dietuai Sugeng Riyono. Kuasa hukum tergugat membenarkan bahwa sejak 1990 almarhum mengalami kecelakaan yang berakibat patah tulang

Gugat Balik

Pada 10 Maret 2009, melalui kuasa hukumnya Sri Puji Astuti para tergugat mengajukan gugatan balik (rekonvensi). Dalam rekonvensi disebutkan justru RS Omni Internasional yang melakukan melakukan perbuatan melawan hukum dengan tidak memberikan informasi medis dan mengkalrifikasi tagihan. Para tergugat menilai tagihan penggugat tidak wajar. “Bukan tergugat yang wanprestasi,” ujar Sri Puji Astuti dalam gugat rekonvensi.

Ketika Abdullah dirawat di RS Omni Internasional, para tergugat selalu meminta informasi medis penyakit Abdullah. Sebab tergugat II yang memiliki hubungan kerja dengan pasien serta tergugat I dan III selaku keluarga berhak mendapatkan informasi itu. Untuk mengklarifikasi hal itu, pada 25 Februari 2008 diadakan pertemuan antara para tergugat dengan sembilan jajaran RS Omni Internasional yang dipimpin dokter Mariyana.

Dalam pertemuan itu penggugat berjanji memberikan informasi medis pasien. Setelah ditunggu-tunggu hingga gugatan bergulir, informasi itu tak jua diperoleh tergugat. “Sejak awal justru penggugat yang tidak beritikad baik dengan menutup-nutupi cara penanganan pasien hingga meninggal,” ujar kuasa hukum tergugat.

Akibat meninggalnya pasien, para tergugat mengalami kerugian karena itu tergugat meminta penggugat melakukan permohonan maaf di media nasional atas pelayanan yang tidak baik dari penggugat pada almarhum dan pencemaran nama baik para tergugat. Para tergugat juga menuntut ganti rugi immateriil Rp5 miliar lantaran kehilangan almarhum selaku tulang punggung keluiarga.

Dalam jawabannya, tergugat membenarkan pada 1990 mengalami kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. Namun hal itu tidak berkaitan dengan penyakit yang diderita Abdullah hingga akhirnya meninggal. Sejak awal masuk RS, pasien hanya bertujuan untuk check up kesehatan, tapi oleh penggugat pasien langsung diarahkan untuk dirawat inap pada 3 Mei 2007.

Lantaran tidak mendapat jawaban, para tergugat mencari pendapat lain (second opinion), baik dari kerabat maupun dokter lain terkait tagihan penggugat pada tergugat. “Hasilnya banyak yang ganjil,” ujar kuasa hukum tergugat. Misalnya, dalam tagihan disebutkan penggugat melakukan cuci darag (hemodialysis) setiap hari mulai 19 hingga 31 Mei 2007. Selain itu, terjadi pergantian resep dokter tiap hari mulai 4 – 31 Mei 2007. Padahal, satu resep obat berlaku untuk jangka waktu tiga hingga enam hari.

Lantaran menolak membayar, penggugat dalam surat tanggal 20 September 2007 bahkan melaporkan para tergugat kepada Ikatan RS Jakarta Metropolitan (IRSJAM) dan Persatuan RS Seluruh Indonesia (PERSSI). Menurut kuasa hukum, seharusnya tergugat yang melakukan upaya hukum untuk melakukan tuntutan terhadap penggugat atas indikasi malpraktek yang berakibat pasien meninggal dunia.”

Prita Mulyasari dan Rumah ‘Sakit’ Omni Internasional Alam Sutera Tangerang

Posted in Peep Talk by mibnufajar on 3 June, 2009

Berikut Tulisan yang dimuat Prita Mulyasari di Suara Pembaca Detik.com :

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

Gara2 tulisan ini, Ibu Mulyasari Dipenjara. That is really mean. Beliau digugat perdata dan pidana atas tuduhan pencemaran nama baik. Atas gugatan perdata, beliau dinyatakan kalah dan diharuskan membayar denda 50 juta rupiah (dari sekitar 400 juta yang dituntut oleh pihak RS). Atas hasil ini, Prita menyatakan banding. Sedangkan untuk persidangan pidana-nya sendiri, baru akan dilakukan besok, 4 Juni 2009. Jika dinyatakan kalah, beliau bisa dipenjara dengan hukuman maksimal 6 tahun penjara. Well, itulah potret kekejaman kapitalis di negeri kita. Buka mulut, masuk penjara. Berasa di jaman Orba.

Gw harap semua orang mendukung Ibu Prita biar bisa menang di persidangan pidana-nya nanti, semoga juga upaya bandingnya akan berhasil, karena menurut ini benar2 bentuk kedzaliman yang gw gak habis pikir. How could they did that ??? Bener-bener kejam. It pisses me off.  The Least you could do is spreading the word and join the cause on facebook. Biar orang-orang penting di negeri ini tau apa yang terjadi dengan ibu Prita.

Gw sendiri menaruh harapan besar sama Ibu Siti Fadillah Supari. Menurut gw, beliau menaruh perhatian ma hal-hal yang seperti ini. Beliau selalu angkat bicara atas kasus2 kesehatan yang tengah hangat diperbincangkan masyarakat. I hope she did the same on this case. And did it right.